Mengenal Tahap Pertemanan Anak

Pertemanan membentuk karakter anak, baik ke secara positif maupun negatif. Pertemanan pada anak memiliki beberapa tahap perkembangan sesuai perubahan usia anak. Semakin bertambah usia, anak semakin memahami temannya dan mempertimbangkan pertemanannya serta membangun hubungan pertemanan yang semakin dalam. Karakteristik umum dari masing-masing tahap pertemanan anak:   Tahap pra-pertemanan (usia 1 bulan – 4 tahun), anak belum terlalu mampu membangun hubungan pertemanan yang bermakna. Untuk itu usahakan agar saat-saat dimana anak berada bersama anak lain menjadi saat yang menyenangkan bagi anak. Hal tersebut akan menjadi pondasi yang positif bagi pertemanan anak nantinya.   Tahap 2 (usia 4 – 7 tahun), anak akan membangun hubungan pertemanan dengan tetangga yang rumahnya tidak terlalu jauh atau yang duduknya berdekatan di kelas. Bila tidak ada anak usia sebaya yang dapat diakses, kadang anak menciptakan teman imaginer untuk memenuhi kebutuhan pertemanannya.   Tahap 3 (usia 7 – 10 tahun ), anak tidak lagi memilih teman berdasarkan kemudahan akses, melainkan berdasarkan kesamaan minat, kesamaan selera humor serta kesamaan kapasitas kontekstual teman untuk mengekspor dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama.   Tahap 4 (usia 10 – 12 tahun), pada usia ini, hubungan pertemanan memiliki signifikansi yang makin besar, terutama bagi pembentukan konsep diri dan nilai diri...

Daycare

Fenomena working-moms adalah realita yang semakin banyak terjadi dan perlu disiasati.  Bila kedua orang tua bekerja maka alternatif pengasuhan anak yang biasa dipertimbangkan adalah dititipkan ke kakek-nenek, atau dititipkan pada pengasuh di rumah, atau dititipkan di daycare yang mulai menjadi trend di kota-kota besar di Indonesia. Alternatif menitipkan anak di daycare tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri.   Kelebihan Day Care: Ada program pendidikan yang lebih komprehensif serta mainan edukatif bagi anak. Anak mendapat kesempatan bersosialisasi dengan anak-anak lain seusianya. Pengasuh diberi pelatihan khusus tentang pendidikan anak usia dini. Bila satu pengasuh sakit, ada pengasuh lain yang menggantikan.   Sedangkan kekurangannya: Biaya pendaftaran dan bulanan daycare cukup tinggi. Menitipkan anak di daycare, orang tua perlu mengantar dan menjemput Anak yang dititipkan di daycare lebih terekspos pada penyakit, karena ia terekspos pada lebih banyak anak lain. Bila anak menderita sakit yang cukup serius, orang tua tetap perlu back-up plan karena tidak diperbolehkan berada di daycare sampai sembuh.   Ada beberapa hasil penelitian yang dapat dipertimbangkan: Good daycare are good for children, bad daycare are bad for children Menitipkan anak di daycare tidak otomatis membuat ikatan anak dengan orang tua rusak Oleh karena itu, bila orang tua memutuskan untuk menitipkan anak di sebuah daycare, orang tua perlu mempertimbangkan kualitas daycare...

Memberikan Pendidikan Seks Kepada Anak

Seks dalam arti luas memiliki beberapa makna. Yang pertama adalah pengkategorian wanita dan pria. Yang kedua adalah karakter kepriaan dan karakter kewanitaan. Yang terakhir adalah hubungan suami istri. Pada masa modern ini, sangat penting bagi orang tua untuk berperan aktif dalam mengajarkan anak tentang seks, karena bila tidak peran itu akan diambil oleh berbagai sumber informasi lain yang belum tentu positif dampaknya bagi anak.   Sebenarnya cukup banyak hal-hal dasar terkait seks (dalam makna luas) yang perlu diajarkan kepada anak. Tapi dari semuanya, yang terpenting adalah membangun persepsi bahwa seks bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan dengan orang tua dan bahwa seksualitas manusia adalah karunia yang patut disyukuri. Bagaimana cara membangun persepsi tersebut?   Salah satu caranya, dengan bermain tebak-tebakan nama ilmiah anggota tubuh, termasuk anggota tubuh yang menjadi karakter seksualitas anak. Ketika anak sudah bisa menyebutkan nama ilmiah alat kelaminnya dengan benar dan tidak canggung, orang tua dapat melatih anak untuk mengucapkan kalimat bersyukur yang sederhana karena telah dikaruniakan alat kelamin yang berfungsi baik. Dengan demikian anak akan memandang seksualitasnya memang sebagai anugerah Sang...

Trauma Pada Anak

Trauma adalah penyimpanan emosi negatif yang tidak tertangani dengan baik. Trauma dapat menciptakan dampak negatif jangka panjang. Trauma dapat dialami oleh manusia di segala umur, termasuk oleh janin yang masih di dalam kandungan. Kejadian-kejadian yang berpotensi menimbulkan trauma pada anak, antara lain : Jatuh. Kecelakaan. Tindakan medis. Sesak napas. Hampir tenggelam Perpisahan yang mendadak. Bencana alam Mengalami kekerasan. Digigit binatang Menyaksikan kejadian mengerikan. Semakin kecil usia anak, semakin rentan terhadap trauma, sedang anak yang pernah trauma biasanya memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap trauma yang lain. Ciri-ciri anak yang mengalami trauma Rewel Mudah menangis Pola makannya berubah. Tubuh menjadi kurang seimbang Penurunan kemampuan. Kunci untuk menghindari atau meminimalkan trauma pada anak adalah dengan mengijinkan anak mengeluarkan emosi negatif.   Bila anak sudah terlanjur trauma, peran orang tua menjadi seperti plester. Plester hanya pelindung luka tubuh, dan tidak menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah tubuh itu sendiri. Demikian pula, yang dapat menyembuhkan trauma seorang anak adalah anak itu sendiri. Namun, bila trauma masih berkepanjangan, maka sangat disarankan untuk membawa anak ke psikolog atau konselor agar dapat ditangani secara...

Orangtua Dan Kecerdasan Emosi

Menjadi orang tua yang baik memerlukan kecerdasan emosi yang tinggi. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjadi orang tua yang baik. Orang tua juga perlu untuk menguasai kecerdasan emosi karena emosi adalah penggerak.   Salah satu bentuk kecerdasan emosi yang perlu dikuasai oleh orang tua adalah kemampuan untuk mengungkapkan perasaan secara proporsional. Karena untuk memiliki kehidupan emosional yang sehat, emosi tidak boleh terlalu ditekan, melainkan perlu dikeluarkan dengan cara yang baik. Misalnya, ketika orang tua merasa marah sekali kepada anak, dengan kecerdasan emosi yang baik maka orangtua akan mampu untuk mengungkapkan perasaannya apa adanya kepada anak dengan cara yang baik dan dapat dimengerti oleh anak.   Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri adalah bentuk kecerdasan emosi lainnya yang perlu dikuasai orang tua. Hal tersebut disebabkan, motivasi merupakan penggerak perilaku. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan perubahan-perubahan positif, sangat diperlukan motivasi yang tinggi.   Bentuk kecerdasan emosi lainnya yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik adalah kemampuan untuk mengenali emosi orang lain, khususnya anak. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kemampuan untuk berempati, bukan simpati. Dengan berempati, seseorang akan dapat mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain, namun tidak ikut terbawa memikul masalahnya.   Mari membangun kecerdasan emosi...

Komunikasi Balita

Balita senang berbicara karena keingintahuan yang sangat besar, untuk mengembangkannya orangtua perlu berkomunikasi secara positif.   Beberapa panduan yang terkait hal itu: Pada saat anak berbicara, hentikan kegiatan yang sedang orangtua lakukan. Balita memang belum mampu bercerita secara runut, namun orangtua tetap perlu mendengarkan untuk membangun nilai diri anak. Balita mengeksplor dunianya melalui bermain peran dan imaginasi. Kadang mereka menceritakan pengalaman imaginatif, gali lebih jauh pikiran dan perasaan anak terkait pengalamannya tersebut, agar anak terstimulasi mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata. Balita sering berbicara dengan dirinya sendiri saat bermain, namun hal ini akan hilang seiring bertambahnya usia. Kemampuan anak untuk memahami kata-kata sudah cukup berkembang. Namun orangtua tetap perlu mengusahakan agar ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya sesuai dengan pesan yang disampaikan. Hindari kalimat kompleks karena anak belum memahaminya. Meresponi pertanyaan “sepele” anak akan mendorong anak bertanya tentang dunia dan pengalamannya, sehingga pemahaman anak dapat berkembang. Bila orangtua tidak mengetahui jawabannya, carilah bersama-sama. Sehingga anak belajar bahwa orangtua bukanlah sosok yang serba tahu, dan bahwa tidak memiliki jawaban atas suatu pertanyaan merupakan hal yang normal. Di sisi lain, anak belajar mencari jawaban atas pertanyaan yang ia miliki.   Selamat berkomunikasi dengan anak secara positif...