Orangtua Dan Kecerdasan Emosi

Menjadi orang tua yang baik memerlukan kecerdasan emosi yang tinggi. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjadi orang tua yang baik. Orang tua juga perlu untuk menguasai kecerdasan emosi karena emosi adalah penggerak.   Salah satu bentuk kecerdasan emosi yang perlu dikuasai oleh orang tua adalah kemampuan untuk mengungkapkan perasaan secara proporsional. Karena untuk memiliki kehidupan emosional yang sehat, emosi tidak boleh terlalu ditekan, melainkan perlu dikeluarkan dengan cara yang baik. Misalnya, ketika orang tua merasa marah sekali kepada anak, dengan kecerdasan emosi yang baik maka orangtua akan mampu untuk mengungkapkan perasaannya apa adanya kepada anak dengan cara yang baik dan dapat dimengerti oleh anak.   Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri adalah bentuk kecerdasan emosi lainnya yang perlu dikuasai orang tua. Hal tersebut disebabkan, motivasi merupakan penggerak perilaku. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan perubahan-perubahan positif, sangat diperlukan motivasi yang tinggi.   Bentuk kecerdasan emosi lainnya yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik adalah kemampuan untuk mengenali emosi orang lain, khususnya anak. Dalam hal ini yang diperlukan adalah kemampuan untuk berempati, bukan simpati. Dengan berempati, seseorang akan dapat mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain, namun tidak ikut terbawa memikul masalahnya.   Mari membangun kecerdasan emosi...

Komunikasi Balita

Balita senang berbicara karena keingintahuan yang sangat besar, untuk mengembangkannya orangtua perlu berkomunikasi secara positif.   Beberapa panduan yang terkait hal itu: Pada saat anak berbicara, hentikan kegiatan yang sedang orangtua lakukan. Balita memang belum mampu bercerita secara runut, namun orangtua tetap perlu mendengarkan untuk membangun nilai diri anak. Balita mengeksplor dunianya melalui bermain peran dan imaginasi. Kadang mereka menceritakan pengalaman imaginatif, gali lebih jauh pikiran dan perasaan anak terkait pengalamannya tersebut, agar anak terstimulasi mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata. Balita sering berbicara dengan dirinya sendiri saat bermain, namun hal ini akan hilang seiring bertambahnya usia. Kemampuan anak untuk memahami kata-kata sudah cukup berkembang. Namun orangtua tetap perlu mengusahakan agar ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya sesuai dengan pesan yang disampaikan. Hindari kalimat kompleks karena anak belum memahaminya. Meresponi pertanyaan “sepele” anak akan mendorong anak bertanya tentang dunia dan pengalamannya, sehingga pemahaman anak dapat berkembang. Bila orangtua tidak mengetahui jawabannya, carilah bersama-sama. Sehingga anak belajar bahwa orangtua bukanlah sosok yang serba tahu, dan bahwa tidak memiliki jawaban atas suatu pertanyaan merupakan hal yang normal. Di sisi lain, anak belajar mencari jawaban atas pertanyaan yang ia miliki.   Selamat berkomunikasi dengan anak secara positif...

Mengatasi Tantrum

Rasa marah telah ada sejak bayi. Kemarahan menjadi tantrum karena kemampuan pengendalian emosi yang rendah. Anak mulai menunjukkan perilaku tantrum di usia 1 atau 2 tahun. Mereka mulai memiliki keinginan, dan menjadi marah ketika dihalangi. Anak usia 1 tahun umumnya belum mengekspesikan kemarahannya dengan memukul ataupun menggigit orangtua. Biasanya mereka berguling-guling di lantai atau menangis dan berteriak.   Ketika tantrum, ada beberapa prinsip yang perlu diingat: Tidak menyerah dan mengikuti keinginan anak agar tidak menjadi “senjata” untuk memperoleh keinginannya. Sebaiknya orangtua menolong menghilangkan kemarahan secepatnya. Pelajari cara efektif menghilangkan tantrum melalui trial and error, karena setiap anak unik. Hindari hukuman fisik karena itu bukan contoh pengendalian emosi yang baik. Tanamkan bahwa perilaku yang diarahkan orangtua adalah perilaku yang seharusnya. Hal itu akan membangun nilai-nilai moral dan etika anak, sehingga akan tetap dilakukan meski tidak diawasi. Pujilah anak ketika melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Berusaha memenuhi keinginan anak selama masih dalam batas kewajaran, sehingga meminimalkan kemarahan dan membangun kepercayaan anak pada orangtua.   Bila prinsip-prinsip di atas kita tanamkan, maka hal itu akan membangun generasi yang sehat fisik dan pandai secara intelektual,  juga matang dalam pengendalian...

Gadget dan Balita

Balita  belajar dengan mencontoh yang mereka lihat, termasuk tontonan di depan layar, baik televisi, komputer, tablet maupun telepon genggam. Rata-rata balita menghabiskan waktu 3,5 jam per hari di depan layar, sedangkan aktivitas fisik hanya 60 menit seminggu. Sehingga banyak balita yang mengalami obesitas. Kesadaran orangtua menyeleksi tontonan anak memang semakin besar, namun ternyata iklan komersial televisi juga perlu diseleksi, khususnya dalam hal preferensi makanan. Iklan komersial televisi untuk balita adalah kebanyakan iklan makanan bernutrisi rendah yang tinggi sodium, lemak, gula, serta rendah serat, mineral dan vitamin yang diperlukan anak. Karena keterbatasan berpikirnya, anak mempercayai pesan iklan yang ditontonnya. Sehingga persepsi balita akan makanan sehat dan kebiasaan makan sehat makin menurun, sedang konsumsi makanan rendah nutrisi meningkat. Akibatnya resiko obesitas dan kerusakan gigi meningkat, keterbatasan pencapaian akademik di usia sekolah, bahkan meningkatnya resiko diabetes, penyakit jantung dan kanker, ketika anak balita tersebut telah menjadi dewasa. Karena itu, kontrol orangtua sangatlah penting bagi perkembangan kesehatan anak. Perhatikan keseimbangan kontrol dan kasih, agar hubungan orangtua  anak tidak didominasi oleh konflik. Balita akan termotivasi mengikuti aturan orangtua bila hubungan anak  orangtua hangat. Kehangatan hubungan orangtua  anak akan menolong anak untuk berkembang dengan baik, termasuk dalam persepsi dan perilaku terkait...

SIAP MASUK SD

Memasuki Sekolah Dasar merupakan masa yang krusial baik bagi anak maupun orangtua. Banyak keterampilan dan pengetahuan baru yang harus dipelajari dan anak membutuhkan dukungan orangtua agar dapat melewati tahap tersebut dengan baik.   Hal yang dapat dilakukan untuk mendukung anak di tahap ini, antara lain: Memperlengkapi dengan berbagai peralatan yang dibutuhkan, menolongnya menyimpan perlengkapannya di area yang mudah dicari. Membangun kesukaan membaca anak. Menjadi contoh bagi anak. Mendampingi anak belajar agar anak dapat melihat relevansi dari apa yang dipelajarinya di sekolah dengan kehidupannya sehari-hari. Membangun komunikasi yang baik dengan wali kelas anak di sekolah. Mengetahui gaya belajar anak. Membangun komunikasi yang baik dengan anak untuk mengetahui suasana dan gaya pembelajaran yang sesuai bagi anak Anak perlu dilatih agar dapat mengerjakan kegiatan akademiknya secara bertanggung jawab dan mandiri, tanpa mengurangi kesukaannya untuk bersekolah.   Beberapa hal yang perlu dibangun dan dibiasakan untuk membentuk tanggung jawab dan kemandirian belajar pada anak, antara lain :   Berusaha untuk mengerti apa yang diajarkan guru serta untuk mendukung anak menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bila orangtua terus mendukung secara konsisten dan sabar, maka anak akan menjadi pembelajar yang bertanggung jawab.   Sikap yang positif terhadap kegiatan akademik dan minat orangtua terhadap pelajaran anak akan menstimulasi minat anak terhadap hal tersebut, karena orangtua adalah panutan yang pertama dan terutama bagi...

Gemar Membaca

Kecintaan membaca merupakan salah satu fakfor kesuksesan anak. Sayangnya masih sedikit orang tua yang menyadari dan menumbuhkan kecintaan membaca pada anak. Orang tua berpikir dengan menyediakan banyak bacaan  dapat menumbuhkan kecintaan membaca anak. Padahal kunci pertama dan terutama dalam menumbuhkan kecintaan membaca anak adalah dengan membacakan cerita bagi anak secara rutin dan sistematis. Ketersediaan buku yang bervariasi akan berdampak positif bila kecintaan membacanya sudah muncul.   Anak membutuhkan orang tua untuk menjembatani dengan membacakan buku. Dengan membacakan, orang tua memperkenalkan kata-kata baru. Namun tujuan utama membacakan adalah membangun kecintaan membaca pada anak, bukan untuk membangun pengetahuan anak. Setelah ada kecintaan membaca, barulah pengetahuan terbangun. Urutan tersebut tidak dapat dibalik. Dan kecintaan membaca umumnya terbangun dari buku cerita.   Mengapa buku cerita bagi anak lebih baik dibandingkan buku pengetahuan? Buku cerita lebih menyentuh hati dibandingkan pengetahuan sehingga kesan yang ditinggalkannya pun lebih dalam dan membekas lebih lama. Selain itu, membacakan buku cerita menolong anak lebih siap mengarungi hidup, karena berbagai cerita pengalaman yang dapat inspirasi nilai hidup, misalnya keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi kesulitan. Lagipula, cepat atau lambat, anak pasti akan bertemu dengan buku pengetahuan di sekolah, namun belum tentu anak dapat bertemu dengan buku cerita yang dapat menanamkan nilai-nilai hidup, di sekolah. Beberapa Pedoman Membacakan Untuk Anak Jangan dipaksakan. Jadikan membacakan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan terpaku pada teks atau tulisan. Usahakan agar kegiatan membacakan tersebut bersifat interaktif, tanyakan pendapat anak dengan sedikit pertanyaan, sehingga tidak menimbulkan persepsi pada anak bahwa tujuan orang tua membacakan buku adalah untuk menguji...