Mengatasi Tantrum

Rasa marah telah ada sejak bayi. Kemarahan menjadi tantrum karena kemampuan pengendalian emosi yang rendah. Anak mulai menunjukkan perilaku tantrum di usia 1 atau 2 tahun. Mereka mulai memiliki keinginan, dan menjadi marah ketika dihalangi. Anak usia 1 tahun umumnya belum mengekspesikan kemarahannya dengan memukul ataupun menggigit orangtua. Biasanya mereka berguling-guling di lantai atau menangis dan berteriak.   Ketika tantrum, ada beberapa prinsip yang perlu diingat: Tidak menyerah dan mengikuti keinginan anak agar tidak menjadi “senjata” untuk memperoleh keinginannya. Sebaiknya orangtua menolong menghilangkan kemarahan secepatnya. Pelajari cara efektif menghilangkan tantrum melalui trial and error, karena setiap anak unik. Hindari hukuman fisik karena itu bukan contoh pengendalian emosi yang baik. Tanamkan bahwa perilaku yang diarahkan orangtua adalah perilaku yang seharusnya. Hal itu akan membangun nilai-nilai moral dan etika anak, sehingga akan tetap dilakukan meski tidak diawasi. Pujilah anak ketika melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Berusaha memenuhi keinginan anak selama masih dalam batas kewajaran, sehingga meminimalkan kemarahan dan membangun kepercayaan anak pada orangtua.   Bila prinsip-prinsip di atas kita tanamkan, maka hal itu akan membangun generasi yang sehat fisik dan pandai secara intelektual,  juga matang dalam pengendalian...

Gadget dan Balita

Balita  belajar dengan mencontoh yang mereka lihat, termasuk tontonan di depan layar, baik televisi, komputer, tablet maupun telepon genggam. Rata-rata balita menghabiskan waktu 3,5 jam per hari di depan layar, sedangkan aktivitas fisik hanya 60 menit seminggu. Sehingga banyak balita yang mengalami obesitas. Kesadaran orangtua menyeleksi tontonan anak memang semakin besar, namun ternyata iklan komersial televisi juga perlu diseleksi, khususnya dalam hal preferensi makanan. Iklan komersial televisi untuk balita adalah kebanyakan iklan makanan bernutrisi rendah yang tinggi sodium, lemak, gula, serta rendah serat, mineral dan vitamin yang diperlukan anak. Karena keterbatasan berpikirnya, anak mempercayai pesan iklan yang ditontonnya. Sehingga persepsi balita akan makanan sehat dan kebiasaan makan sehat makin menurun, sedang konsumsi makanan rendah nutrisi meningkat. Akibatnya resiko obesitas dan kerusakan gigi meningkat, keterbatasan pencapaian akademik di usia sekolah, bahkan meningkatnya resiko diabetes, penyakit jantung dan kanker, ketika anak balita tersebut telah menjadi dewasa. Karena itu, kontrol orangtua sangatlah penting bagi perkembangan kesehatan anak. Perhatikan keseimbangan kontrol dan kasih, agar hubungan orangtua  anak tidak didominasi oleh konflik. Balita akan termotivasi mengikuti aturan orangtua bila hubungan anak  orangtua hangat. Kehangatan hubungan orangtua  anak akan menolong anak untuk berkembang dengan baik, termasuk dalam persepsi dan perilaku terkait...

SIAP MASUK SD

Memasuki Sekolah Dasar merupakan masa yang krusial baik bagi anak maupun orangtua. Banyak keterampilan dan pengetahuan baru yang harus dipelajari dan anak membutuhkan dukungan orangtua agar dapat melewati tahap tersebut dengan baik.   Hal yang dapat dilakukan untuk mendukung anak di tahap ini, antara lain: Memperlengkapi dengan berbagai peralatan yang dibutuhkan, menolongnya menyimpan perlengkapannya di area yang mudah dicari. Membangun kesukaan membaca anak. Menjadi contoh bagi anak. Mendampingi anak belajar agar anak dapat melihat relevansi dari apa yang dipelajarinya di sekolah dengan kehidupannya sehari-hari. Membangun komunikasi yang baik dengan wali kelas anak di sekolah. Mengetahui gaya belajar anak. Membangun komunikasi yang baik dengan anak untuk mengetahui suasana dan gaya pembelajaran yang sesuai bagi anak Anak perlu dilatih agar dapat mengerjakan kegiatan akademiknya secara bertanggung jawab dan mandiri, tanpa mengurangi kesukaannya untuk bersekolah.   Beberapa hal yang perlu dibangun dan dibiasakan untuk membentuk tanggung jawab dan kemandirian belajar pada anak, antara lain :   Berusaha untuk mengerti apa yang diajarkan guru serta untuk mendukung anak menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Bila orangtua terus mendukung secara konsisten dan sabar, maka anak akan menjadi pembelajar yang bertanggung jawab.   Sikap yang positif terhadap kegiatan akademik dan minat orangtua terhadap pelajaran anak akan menstimulasi minat anak terhadap hal tersebut, karena orangtua adalah panutan yang pertama dan terutama bagi...

Gemar Membaca

Kecintaan membaca merupakan salah satu fakfor kesuksesan anak. Sayangnya masih sedikit orang tua yang menyadari dan menumbuhkan kecintaan membaca pada anak. Orang tua berpikir dengan menyediakan banyak bacaan  dapat menumbuhkan kecintaan membaca anak. Padahal kunci pertama dan terutama dalam menumbuhkan kecintaan membaca anak adalah dengan membacakan cerita bagi anak secara rutin dan sistematis. Ketersediaan buku yang bervariasi akan berdampak positif bila kecintaan membacanya sudah muncul.   Anak membutuhkan orang tua untuk menjembatani dengan membacakan buku. Dengan membacakan, orang tua memperkenalkan kata-kata baru. Namun tujuan utama membacakan adalah membangun kecintaan membaca pada anak, bukan untuk membangun pengetahuan anak. Setelah ada kecintaan membaca, barulah pengetahuan terbangun. Urutan tersebut tidak dapat dibalik. Dan kecintaan membaca umumnya terbangun dari buku cerita.   Mengapa buku cerita bagi anak lebih baik dibandingkan buku pengetahuan? Buku cerita lebih menyentuh hati dibandingkan pengetahuan sehingga kesan yang ditinggalkannya pun lebih dalam dan membekas lebih lama. Selain itu, membacakan buku cerita menolong anak lebih siap mengarungi hidup, karena berbagai cerita pengalaman yang dapat inspirasi nilai hidup, misalnya keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi kesulitan. Lagipula, cepat atau lambat, anak pasti akan bertemu dengan buku pengetahuan di sekolah, namun belum tentu anak dapat bertemu dengan buku cerita yang dapat menanamkan nilai-nilai hidup, di sekolah. Beberapa Pedoman Membacakan Untuk Anak Jangan dipaksakan. Jadikan membacakan sebagai sesuatu yang menyenangkan. Jangan terpaku pada teks atau tulisan. Usahakan agar kegiatan membacakan tersebut bersifat interaktif, tanyakan pendapat anak dengan sedikit pertanyaan, sehingga tidak menimbulkan persepsi pada anak bahwa tujuan orang tua membacakan buku adalah untuk menguji...

Bermain Imaginasi Bagi Balita

Bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak-anak. Bermain meningkatkan perkembangan motorik kasar maupun halus, kognitif, emosi maupun keahlian sosial anak serta merupakan cara yang efektif bagi anak untuk memahami realita hidup serta mengatasi stres. Namun permainan yang bersifat bullying dan membahayakan tentunya perlu dicegah. Salah satu bentuk permainan yang disukai adalah BERIMAGINASI. Berimaginasi pada balita bersifat lintas gender. Yang membedakan adalah tema imaginasinya. Balita laki-laki condong pada tema agresif seperti perang atau balap mobil. Sedang balita wanita lebih condong kepada tema domestik yang melibatkan berbagai aktivitas rutin seperti memasak atau bertamu. Permainan imaginasi menolong balita menyalurkan keinginan mereka melakukan hal-hal yang sulit ataupun tidak dapat mereka lakukan. Fungsi lain imaginasi bagi balita adalah sebagai sarana menginternalisasikan makna kehidupan melalui simbolisasi dalam berimaginasi. Misalnya, ketika dua anak balita perempuan memainkan dua boneka yang diberi peran sebagai kakak adik. Kedua boneka tersebut diberi pakaian serupa dan bergandengan tangan. Dengan melakukan hal tersebut, kedua balita perempuan tersebut sedang memainkan simbolisasi tentang makna menjadi kakak-adik, yaitu menyerupai satu sama lain dan memiliki hubungan yang dekat satu sama lain. Berimaginasi juga berfungsi sebagai sarana self-help bagi balita dalam konteks tertentu. Balita yang sulit menerima perubahan dalam hidupnya akibat kehadiran adiknya yang baru lahir, dapat ditolong dengan memainkan peran imaginatif sebagai orangtua dengan boneka sebagai adik bayi. Permainan imaginasi sangat penting dikembangkan dalam kehidupan balita, mari kita mendorong balita kita untuk mengasah kemampuannya melakukan permainan...

Peranan Self-talk Orangtua dalam Mendidik Anak (2)

Proses memeriksa self-talk dapat dimulai dengan mengidentifikasi satu peristiwa dimana orangtua tidak berhasil menangani perilaku sulit anak. Misalnya, ketika anak tantrum di tempat umum, orangtua berpikir “Saya bukan ibu yang baik, saya tidak bisa mendidik anak untuk berperilaku baik di tempat umum. Sepertinya di kemudian hari saya harus menghindari membawa anak ke tempat umum”. Maka hasilnya kesempatan anak berlatih mengelola perilakunya di tempat umum, semakin minim. Biasanya aplikasi teknik distraksi akan menolong orangtua untuk terlepas dari pikiran negatif. Distraksi maksudnya mengalihkan fokus perhatian dari pikiran negatif yang muncul terkait suatu peristiwa, dengan cara : Bernyanyi Menuliskan pikiran negatif yang muncul di sepotong kertas, lalu membuang kertas itu Mengulang-ulang kalimat positif yang relevan, misalnya “Keadaan akan menjadi lebih baik” Ada baiknya sebelum perilaku sulit anak terjadi lagi, orangtua sudah memikirkan dan memutuskan teknik distraksi mana yang akan dicobanya untuk mengintervensi bila pikiran negatif muncul. Bila orangtua telah berhasil melakukannya, maka langkah berikutnya adalah melakukan teknik intervensi permanen, sbb : Siapkan waktu untuk memproses pikiran negatif. Identifikasi pikiran negatif apa yang muncul. Daftarkan hal-hal yang mendukung pikiran tersebut. Cari alternatif penjelasan terhadap perisitiwa tersebut, yang bersifat positif. Daftarkan hal-hal yang mendukung pikiran positif, untuk menghindari menipu diri sendiri. Dengan melakukan hal-hal di atas, diharapkan orangtua akan bisa mengganti pikiran negatifnya dengan pikiran yang positif, sehingga orangtua terhindar dari tindakan-tindakan yang...