Menyikapi Peristiwa Serangan Terorisme

ellen-menyikapi terorismeSerangan terorisme yang terjadi di Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016 lalu mengejutkan banyak pihak dan membuat sejumlah anak yang berada dalam radius yang tidak terlalu jauh dari lokasi, menjadi merasa tidak aman. Anak mungkin tidak mengatakan secara langsung apa yang mengganggunya dan berusaha menekan perasaan takutnya. Namun bila dampak dari pengalaman tersebut tidak tertangani dengan baik, maka hal itu kemungkinan akan dapat menimbulkan trauma pada anak.

Dalam hal ini orangtua perlu berusaha menunjukkan pengertian dalam pengasuhannya. Dalam dunia konseling dan psikologi, dikenal dengan istilah pola asuh yang terapeutik, yang mengakomodasi perilaku kelekatan anak dengan pengasuh utamanya ketika ia merasa takut atau cemas.

Umumnya anak yang pernah mengalami hal berikut lebih rentan terhadap trauma :

  • Proses yang sulit saat dilahirkan
  • Perpisahan yang panjang atau sering dengan sosok ibu atau pengasuh utamanya
  • Penyakit yang menimbulkan rasa sakit yang besar
  • Sering berpindah rumah atau sekolah
  • Pola asuh yang tidak konsisten

Tentunya, selain hal-hal di atas, usia dan jenis kepribadian anak juga akan mempengaruhi respon anak terhadap peristiwa yang mengejutkan seperti serangan terorisme yang lalu.

Berikut panduan untuk menyikapi kejadian serangan terorisme,

  • Mengontrol informasi visual yang diterima anak
  • Mewaspadai anak menerima informasi yang terdistorsi dari temannya
  • Isu yang perlu dipahami anak adalah bahwa sekuat apapun keyakinan seseorang akan sesuatu, ia tidak berhak mencapai tujuannya dengan cara melukai orang lain. Dan semua kepercayaan dan keyakinan agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia, tidak satu pun membenarkan hal tersebut.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *