Peran Orangtua terhadap Pemahaman Gender

Disadari atau tidak, anak akan cenderung meniru model peran gender yang ditunjukkan oleh orangtuanya dalam kehidupan sehari-hari. Anak laki-laki akan meniru model peran gender dari sang ayah, sedang anak perempuan meniru model peran gender dari sang ibu. Selain model gender, pola asuh orangtua merupakan salah satu hal yang juga sangat berpengaruh terhadap pemahaman anak tentang maskulinitas dan femininitas, serta berbagai perilaku terkait itu.

 

Tidak dapat dipungkiri, ada perbedaan umum dalam cara orangtua membesarkan anak laki-laki dan perempuan, bahkan terjadi sejak anak dilahirkan. Misalnya, bila bayi yang dilahirkan perempuan, maka biasanya kamar bayi akan bernuansa warna merah muda, dan bila yang dilahirkan adalah anak laki-laki diberi nuansa warna biru. Model pakaian yang dipilihkan orangtua untuk sang anak pun umumnya berbeda. Hal tersebut tanpa disadari memberikan input terhadap anak tentang apa yang sesuai bagi anak laki-laki dan apa yang sesuai bagi anak perempuan.

 

Ketika seorang anak memasuki usia sekitar dua tahun, umumnya anak mulai memiliki kemampuan untuk melabel dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Dan ketika berusia sekitar empat tahun, anak mulai memiliki kemampuan untuk mengevaluasi dirinya berdasarkan gender self-concept yang ia miliki. Anak laki-laki akan merasa bangga bila mampu melakukan aktivitas maskulin, seperti menendang bola. Sebaliknya, umumnya anak laki-laki akan merasa malu melakukan aktivitas feminin, seperti bermain rumah boneka.

 

Berbagai hal yang dikatakan dan dilakukan orangtua terhadap anak berpengaruh terhadap pembentukan gender self concept anak. Oleh karena itu, orangtua perlu berhati-hati terhadap apa yang ia katakan, berikan dan lakukan terhadap maupun bersama anak, agar mengarahkan anak pada pembentukan gender self concept yang sehat.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *